Pewarta Saat Mewawancarai Ibu W.
Pewarta Saat Mewawancarai Ibu W.

Awan mendung menyelimuti langit Singosari pada siang hari. Menyusuri jalanan yang padat kendaraan, lalu masuk ke tengah jalan perkebunan tebu. Jalan yang sedikit berlubang dan diiringi gemericik air hujan mengantarkan pewarta ke salah satu rumah warga Desa Toyomarto, Singosari.

Rumah yang berdekatan dengan aliran sungai dengan ditutupi pepohonan bambu di sampingnya membuat penasaran pewarta dengan rumah ini. Pemilik rumah ini adalah seorang ibu yang berumur 47 tahun. Wanita berinisial W ini dikarunia tiga anak. Saat dikunjungi wartawan,  W terlihat sedang istirahat bersama anak bungsunya. 

Menurut penuturannya, anaknya ada tiga. "Anak saya tiga, yang pertama laki-laki udah menikah, yang kedua perempuan belum menikah, yang ketiga ini masih kelas 6 SD," tutur Ibu W.

Melalui pertemuan perdana ini, pewarta mendapatkan informasi yang cukup membuat kaget. Pasalnya anak bungsu Ibu W tersebut tidak ingin masuk sekolah, karena suatu hal,"Anak saya udah nggak mau masuk sekolah mas. Sudah mulai akhir Bulan Agustus sampai sekarang mas,"Ujar Ibu W yang juga sebagai pekerja pabrik.

Anak bungsu Ibu W tersebut berinisial H yang merupakan anak yatim, dan sekarang kelas 6 Sekolah Dasar. Sudah sejak akhir Bulan Agustus 2019 tidak berkeinginan untuk masuk sekolah. Banyak teman-temannya dan guru yang menjenguk dan membujuk anak H ini untuk masuk sekolah. Karena sayang sudah kelas 6 dan setelah ini juga menghadapi ujian sekolah. Dia bercerita kepada ibunya bahwa. "Lek gak melbu digoleki, tapi lek melbu dikeroyok ambek dikeplak-keplak (Jika tidak masuk dicari, rapi kalau masuk dikeroyok sama dipukul)," jelas Ibu W sambil terlihat dengan raut wajah yang marah dan penuh emosi. 

Mendengar cerita tersebut sontak pewarta kaget dan melihat kondisi anak H tersebut. Badan yang kecil dan kurus terlihat dari saat pertama menjumpainya. Kebetulan dia sedang tidur pulas sesaat setelah dia minum obat untuk kesehatannya. Menurut penuturan ibu W, anak H ini benar-benar tidak berkeinginan untuk masuk sekolah. Karena takut jika dikeroyok oleh temannya lagi, sampai-sampai dia mengerjakan soal try out untuk ujian sekolah di rumahnya sambil ditunggu oleh gurunya. 

"H ini nggak mau bener mas, geleng-geleng aja kalau disuruh masuk sekolah. Takut kalau masuk sekolah dikeroyok lagi sama temannya dan dia nggak menyebutkan nama-nama temannya yang mengeroyok dia. Sampai tadi bu gurunya ke sini mendampingi H untuk mengerjakan soal try out ujian sekolah," tutur Ibu W yang sampai-sampai dia di vonis darah tinggi oleh tenaga kesehatan akibat memikirkan anaknya terus. 

Menurut informasi yang diperoleh pewarta, anak H ini pernah bercerita ke salah seorang yang enggan disebutkan namanya, bahwa anak H ini pernah dikeroyok oleh empat temannya. Salah satu rumah temannya yang pernah mengeroyok anak H ini juga berdekatan dengan rumah H yang berada di Toyomarto, Singosari. Anak H juga kerap kali berkeinginan untuk diantarkan ke rumah neneknya yang berada di Dengkol, Singosari untuk lebih bisa bebas beraktifitas. "Kalau di Dengkol, H ini berani keluar mas, ya salat di masjid, ngaji," ujar Ibu W.

Banyak rombongan teman-temannya sekitar sembilan orang yang kerap kali menjenguk anak H ini. "Banyak mas temannya H ini yang menjenguk, kadang ke sini (Toyomarto), kadang juga ke Dengkol," tambahnya.

Jika berada di Toyomarto, Singosari anak H ini benar-benar tidak berkeinginan keluar rumah. Jadi kehidupan sehari-harinya hanya di dalam rumah. 

Menurut penuturan salah satu tenaga pendidik yang enggan disebutkan namanya dan sempat dikonfirmasi oleh pewarta, anak H ini merupakan anak yang pintar, khususnya di mata pelajaran Bahasa Jawa. "H ini merupakan anak yang pintar, khususnya mata pelajaran Bahasa Jawa. Jadi eman kalau dia nggak mau masuk sekolah," ujar salah satu tenaga pendidik tersebut. 

Dia juga menambahkan, kemungkinan anak H tersebut tidak berkeinginan untuk masuk sekolah karena ada masalah internal keluarga yang harus segera diselesaikan. "Ada kemungkinan penyebabnya dari faktor keluarga dan dari pihak sekah juga nggak kurang-kurang dengan cara lembut untuk membujuk anak H agar mau masuk sekolah lagi," tambahnya. 

Ibu W sempat mengungkapkan bahwa dia pernah membuat surat pernyataan bahwa tidak mau sekolah. "Dikengken ndamel pernyataan mboten sekolah. Sampun kulo ndamel, sampun kulo paringi materai barang, wong larene mboten purun tok. Pernyataan e nggeh tidak mau sekolah, gitu tok. Kulo sing ndamel surat pernyataan e, tapi dicontohi bu gurune. (Disuruh buat pernyataan tidak sekolah. Sudah saya buat, sudah saya kasih materai segala, orang anaknya tidak mau terus. Pernyataannya ya tidak mau sekolah, gitu aja. Saya yang buat surat pernyataannya, tapi dikasih contoh sama bu gurunya)," ujar Ibu W sambil menggebu-gebu. 

Tetapi setelah dibuatnya surat pernyataan tersebut, pihak di pusat tidak mau menerima dan mengimbau agar anak H tetap bersekolah. Karena anak H tersebut juga sudah terdaftar sebagai peserta ujian nasional dan posisinya anak H kelas 6 Sekolah Dasar,"Tapi ten jakarta e mboten angsal leren. Terus gurune bolak-bali mriki. Sampun terdaftar mboten angsal leren. (Tapi dari Jakarta nya tidak diperbolehkan putus sekolah. Lalu gurunya sering kesini. Sudah terdaftar tidak diperbolehkan putus sekolah)," tambah Ibu W. 

Sampai-sampai Ibu W sudah ke kiai untuk meminta bantuan dan solusi agar anak H berkeinginan untuk sekolah kembali. "Masih kulo nggeh yo nopo, tiyang sepah, sampun ten yai, ten pundi-pundi kersane larene niku purun. (Meskipun saya ini ya gimana, orang tuanya, sudah ke kyai, kemana-mana, supaya anak ini mau masuk sekolah)," terang Ibu W.