Petugas Kejari Kepanjen saat melakukan penggeledahan di Kantor Dinkes Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)

Petugas Kejari Kepanjen saat melakukan penggeledahan di Kantor Dinkes Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)


Editor

A Yahya


Tersangka Yohan Charles L S, kasus  dugaan  korupsi pembayaran honorarium perawat Ponkesdes masih bisa beraktivitas seperti umumnya pegawai pemeritah. Pria yang menjabat Kasubag Keuangan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang ini masih bisa menghirup udara segar, meski sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Juli 2019.

Belum dilakukannya penahanan terhadap tersangka kasus dugaan korupsi yang menyebabkan kerugian negara mencapai kisaran Rp 676 juta tersebut, dikarenakan penyidik masih terus melakukan pendalaman.

Penyidik juga masih melengkapi barang bukti dalam perkara tersebut. ”Dari hasil pengeledahan kantor Dinkes ini, kami mengamankan berbagai barang bukti terkait pencairan dana Ponkesdes di tahun 2015 lalu. Tadi ada satu koper dan satu kardus berisi berkas yang kami amankan," kata Kasi Pidsus Kejari Kepanjen, Muhandas Ulimen.

Pihaknya menambahkan, seluruh berkas yang dibawa petugas Kejari Kepanjen ini, nantinya bakal digunakan untuk melengkapi bukti berkas penuntutan terhadap tersangka Yohan.  Dimana setumpuk berkas tersebut, sudah sesuai dengan prosedur. Yakni mendapat izin resmi dari Plt Kepala Dinkes (Kadinkes) Kabupaten Malang, Ratih Maharani. 

Ketika ditanyakan terkait status tersangka Yohan yang belum juga ditahan, Muhandas Ulimen mengaku jika pihaknya masih melakukan pendalaman. ”Sabar dulu, kami masih dalam proses pendalaman kasusnya,” terangnya. 

Ketika ditanyakan terkait sikap tersangka Yohan yang terkesan menghindar, saat petugas Kejari Kepanjen melakukan penggeledahan di Kantor Dinkes Kabupaten Malang, Muhandas mengharap agar pihak yang bersangkutan lebih kooperatif. Sebab, saat ruangan Sub Bagian Keuangan yang merupakan ruang kerja tersangka Yohan hendak diperiksa, petugas tidak bisa masuk ke dalam ruangan lantaran terkunci.

Mengetahui hal ini, salah satu petugas sempat berupaya untuk menghubungi Yohan. Saat mengangkat telepon dari petugas Kejari Kepanjen, yang bersangkutan mengaku sedang berada di salah satu SPBU yang ada di sekitar kantor Dinkes Kabupaten Malang.

Namun hingga agenda penggeledahan berakhir, Yohan kenyataannya tidak mengindahkan janjinya. Atas dasar inilah, Kejari Kepanjen akhirnya menyegel ruangan Sub Bagian Keuangan Dinkes Kabupaten Malang tersebut. 

"Setelah ini (agenda penggeledahan) kami akan melakukan pemeriksaan tambahan. Nantinya jika berkasnya sudah terpenuhi, akan segera kami limpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya. Saya harapkan yang bersangkutan bisa lebih kooperatif,” ungkap Muhandas saat ditemui awak media di sela-sela agenda penggeledahan.

Saat ditanyakan apakah akan ada tersangka lain dari kasus dugaan korupsi pembayaran honorarium perawat Ponkesdes, yang terjadi pada tahun 2015 ini. Muhandas masih belum bisa menjelaskan secara gamblang. Namun pihaknya memastikan jika bakal ada fakta baru yang akan segera diungkap. ”Nanti kita lihat saja, ini masih akan terus berlanjut. Ditunggu saja perkembangan selanjutnya,” ujarnya. 

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Jumat (23/8/2019) pagi, puluhan petugas dari Tim Satuan Khusus Pemberantasan Korupsi Kejari Kepanjen. Nampak sibuk “mengobok-obok” seluruh ruangan yang ada di dalam kantor Dinkes Kabupaten Malang.

Sekitar tiga jam lamanya, petugas akhirnya membawa satu koper dan satu kardus yang berisi berkas akan dugaan kasus pembayaran honorarium perawat Ponkesdes yang terjadi pada tahun 2015 lalu. 

Kejari Kepanjen mengaku jika berkas yang mereka bawa, bakal dijadikan bahan untuk memenuhi berkas dugaan korupsi yang dilakukan tersangka Yohan. Dimana dalam kasus tersebut, negara mengalami kerugian ratusan juta.


End of content

No more pages to load